SEMUA FAKTA MENGENAI SUNDA, JAWA DAN BETAWI (JAWA DAN BETAWI
KETAKUTAN KARENA FAKTA TELAH TERBONGKAR)
Saya suka heran banyak Blog yang mempublikasikan mengenai
Larangan gadis jawa menikah dengan pria sunda, katanya bakalan kena sial dan
katanya jawa itu lebih tua dari sunda.
Dan anehnya kalau pria jawa menikahi gadis sunda itu malah diperbolehkan. (Suatu Kejanggalan)
Selidik punya selidik ternyata hampir setiap Blog yang saya temui pembuatnya adalah wong jowo yang mempublikasikan hal2 tersebut, dan tidak ada sama sekali yang membuat blog mengenai larangan sunda dan jawa itu dari orang sunda kecuali saya seorang.
Saya hanya ingin memberitahukan INFO FAKTA saja untuk para pembaca,
dari dulu hingga sekarang tidak ada orang sunda yang berniat ingin menikah dengan wong jowo,
pria sunda dan gadis sunda tidak ada yang ingin menikah dengan wong jowo, adapun yang menikah dengan wong jowo, mungkin dia bukan orang sunda asli dan masih ada keturunan jowo nya...karena di tatar sunda ini banyak keturunan jowo yang dahulu sejarahnya ketika mataram menjajah tatar sunda banyak dari prajurit mataram yang enggan kembali ke tanah jawa dan lebih memilih tinggal di tatar sunda, dan ada pula gadis2 sunda yang diperkosa oleh prajurit jawa mataram sehingga melahirkan keturunan2 anak haram. dan ditambah pada dasarnya orang sunda tidak mau jauh dari keluarga, sangat sayang keluarga..
lagian gadis sunda itu cantik2, ngapain pria sunda cari gadis di luar non sunda.
sudah jelas dalam sejarah pun Perang Bubat antara sunda vs jawa, dikisahkan kerajaan sunda ditipu oleh pihak jawa... dan berakhir tragis dari pihak sunda semua gugur...
dan dari situlah orang sunda enggan/tidak mau menikah dengan jawa,
sebetulnya putri dyah pitaloka tidak mau menikah dengan non sunda, tapi karena ingin berbakti kepada sang ayah, akhirnya putri sunda mau menuruti kehendak sang ayah, lagian si hayam wuruk raja majapaht bukan lah orang jawa asli, melinkan sunda. silahkan kalian cari biografi hayam wuruk.
jadi intinya, karena jawa merasa diremehkan oleh pihak sunda, karena ada larangan orang sunda menikah dengan jawa,
maka jawa membuat peraturan yang sama, walaupun sebetulnya orang jawa kebanyakan sangat ingin menikah denga orang sunda...khususnya ingin menikahi gadis2 sunda yang cantiknya minta ampun...
padahal yang sebetulnya larangan itu adalah jawa pendatang yang ada di tanah sunda ( cirebon ) dilarang menikah dengan jawa timur. INI YANG SEBETULNYA.
dan sudah jelas, kalau pihak sunda tidak perlu ditanya, pasti jawabannya TIDAK MAU MENIKAH DENGAN JAWA, bukan karena alasan mitos dll, tapi memang wajah orang jawa tidak menarik di hati....
kalau masalah kerjaan profesi dll itu MUDAH DI CARI, cari kerja gampang, manusia itu diberi kelebihan oleh Allah!
makanya kebanyakan pria sunda dan gadis sunda lebih mencari pasangan dari sunda lagi, karena pria sunda dan wanita sunda wajahnya sama2 memiliki kelebihan yang diberikan Tuhan..
7 dari 8 wanita sunda terkenal kecantikannya ke benua asia dan eropa. tapi karena orang luar taunya suku jawa barat, makanya yang ke bawa bagus itu jawa barat, bukan sunda nya. makanya saya dari dulu ingin banget ganti jawa barat jadi pasundan, biar pasundan yang terkenal keluarnya, bukan jawa bagian barat, keenakan dong si jawa yang jadi terkenalnya.
Dari dulu Suku Jawa selalu ingin menyamakan Sunda dengan Jawa, karena orang Jawa memandang Suku Sunda terutama gadis-gadis Sunda nya yang cantik-cantik serta tatar alam Sunda yang subur. Maka tak heran si Suku Jawa selalu ingin menguasai Sunda dan sengaja membuat karangan cerita bahwa Suku Sunda adalah masih keturunan Jawa, dan jawa merasa senang kalau ada orang di luar pulau jawa memanggil sebutan orang sunda itu jawa. biar nama jawa kebawa-bawa bagus.
coba lihat saja cirebon, setengah wilayah banten, indramayu dan masih banyak lagi yang notebene nya itu wilayah sunda, tapi banyak di huni oleh suku jawa pendatang... mereka suku jawa pendatang ingin tinggal di tatar sunda yang subur, dan ingin mempunyai pasangan istri orang sunda MALAHAN MAKSA BANGET PENGEN PUNYA ISTRI ORANG SUNDA KARENA SAKING CANTIKNYA. bukan hanya orang jawa, malahan si BATAK pun maksa kepengen punya istri orang sunda. INI SUDAH MENJADI RAHASIA UMUM. gadis sunda paling diminati oleh banyak suku luar. bagaimana tidak, orang mana yang menolak dengan gadis2 cantik...
perbedaan kulit wajah sunda dengan jawa jauh berbeda, ibarat langit dan bumi.
Kalau jawa itu keturunan india Tamil.
tidak ada nama suku jawa, karena jawa diambil dari nama tanaman jawi.
pulau ini disebut pulau jawa karena terdapat tanaman jawi yang langka, dan sudah punah!Sunda memang bukan Jawa, meski berada dan mendiami pulau yang sama. Orang Sunda rata-rata tidak atau kurang berkenan disebut orang Jawa. Profesor Utju Ali Basyah, tokoh Sunda di Aceh selalu menegaskan bahwa Sunda itu bukan Jawa. Sebab di mata orang Aceh, Jawa itu penjajah!
Menurut Serat Maha Parwa, penduduk Jawa berasal dari Hindustan (India) dan Siam (India) yang sebelumnya singgah di Nusa Kencana (Kalimantan). sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Banjar#Jawa_Tengah
Di zaman kerajaan dahulu, nama wilayah Surabaya adalah Hujung Galuh dan bukan Suroboyo (Nuswantara Lama, belum ada dikotomi kesukuan). Hujung Galuh merupakan kekuasaan kerajaan Galuh. Tarumanegara pecah menjadi 2 bagian kerajaan, yaitu Galuh dan Sunda. keduanya memiliki kekuasaan wilayahnya masing-masing, Sri Baduga Maharaja (1482-1521) menyatukan kembali Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.Kenapa pria dari suku jawa kebanyakan mencari gadis dari suku lain ?
Ini bukan sekedar omongan belaka, tapi bukti dilapangan...
Apakah gadis dari suku jawa kurang begitu menarik untuk pria jawa?
kalau pun ada yang ngaku2 sunda sudah menikah dengan jawa, itu bohong!!! mungkin dia keturunan jawa juga yang ada di tatar sunda, makanya mau nikah sama jawa!Penduduk asli yang hidup di Provinsi Banten berbicara menggunakan dialek yang merupakan turunan dari bahasa Sunda Kuno. Dialek tersebut dikelompokkan sebagai bahasa kasar dalam bahasa Sunda modern, yang memiliki beberapa tingkatan dari tingkat halus sampai tingkat kasar (informal), yang pertama tercipta pada masa Kesultanan Mataram menguasai Priangan (bagian timur Provinsi Jawa Barat). Namun demikian, di Wilayah Banten Selatan Seperti Lebak dan Pandeglang menggunakan bahasa Sunda Campuran Sunda Kuno, Sunda Modern, dan bahasa Indonesia, di Serang dan Cilegon, bahasa Jawa Banten digunakan oleh pendatang etnik Jawa. Dan, di bagian utara Kota Tangerang, bahasa Indonesia dengan dialek Betawi juga digunakan oleh pendatang komunitas Betawi. Di samping bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan dialek Betawi, bahasa Indonesia juga digunakan terutama oleh pendatang dari bagian lain Indonesia.
Bahasa Jawa dialek Banten ini termasuk salah satu yang kurang terdengar gaungnya, mungkin karena sama seperti bahasa Jawa dialek Cirebon (Cerbonan), dan Indramayu (Dermayon), wilayah bahasa Jawa dialek ini terletak di dua propinsi yang lebih sering dikonotasikan dengan wilayah orang Sunda (Propinsi Jawa Barat/Pasundan & Propinsi Banten). Sehingga sangat jarang ahli bahasa Jawa yang mendalami seluk beluk dan sejarahnya. Amat sedikit (kalau tidak mau dikatakan tidak ada) literatur yang ditulis dalam ketiga dialek bahasa Jawa tersebut.
Nasib lebih baik didapat oleh kedua dialek bahasa Jawa lainnya yang tersebut diatas. Semata-mata karena wilayah fisiknya berbatasan langsung dengan wilayah propinsi Jawa Tengah. Dan masih banyaknya persamaan budaya dan bahasa terutama dengan bahasa Jawa dialek Banyumasan dan Tegalan.
Apabila kita mencoba membuka kembali buku sejarah, kita mengenal sebuah kerajaan besar di daerah pulau Jawa bagian Barat, yaitu kerajaan pajajaran. Diperkirakan lima ratus tahun yang lampau, kerajaan itu mengalami masa kejayaan sehingga rakyatnya hidup dalam keadaan tata tentrem kerta raharja. Luas wilayah kerajaan pajajaran meliputi hampir seluruh pulau Jawa bagian Barat ditambah pula dengan daerah Tegal dan Banyumas yang sekarang masuk kedalam wilayah propinsi Jawa Tengah (Ekajati, 1975).
Salah satu daerah pulau Jawa bagian barat yang merupakan daerah yang tak terpisahkan dari kekuasaan kerajaan Pajajaran adalah wilayah Banten. Kata Banten sendiri secara etimologi terdapat beberapa macam pendapat. Kata Banten dianggap berasal dari kata bantahan (bahasa sunda) "bukan penurut", bin-tahan "tahan dalam segala perjuangan",ketiban-inten "kejatuhan intan", ban "lingkaran" dan ten "intan", dan wahanten. Yang terakhir ini adalah nama sebuah daerah dalam sejarah yang termasuk kerajaan pajajaran. Nama itu disebut dalam naskah carita parahiyangan. Artinya mungkin sama dengan Cibanten karena bentuk baru wah berarti "sungai". Cibanten adalah nama sungai yang ada di daerah kota Banten.
Lalu Kerajaan Demak (Jawa) merebut wilayah Banten dari Pajajaran (Sunda). sejak itu masuk pula bahasa dan kebudayaan orang Jawa Kerajaan Demak ke wilayah Banten, terutama di sepanjang daerah pantai utara. Masyarakat Banten di sepanjang pantai utara(sebagian Kabupaten Serang dan Tangerang bagian utara) yang sebelumnya berbahasa dan berbudaya Sunda mulai dipaksa menerima bahasa dan budaya Jawa. Kemungkinan sejak peristiwa ini, muncullah istilah bahasa Jawa (dialek) Banten yang pada perkembangan selanjutnya terjadi sentuh bahasa dengan bahasa Sunda sehingga bahasa Jawa (dialek) Banten bergeser dari ciri-ciri bahasa Jawa lulugu- bahasa Jawa asli.
Berdasarkan sumber informasi yang ada, tidak ada satu pun keterangan yang memberi penjelasan bahwa bahasa Jawa merupakan bahasa resmi yang harus dipergunakan (minimalnya di kuasai) oleh seluruh rakyat Banten pada waktu pemerintahan Kesultanan Banten. Artinya, bahwa bahasa Jawa Banten hanya dipergunakan secara terbatas di kalangan para kerabat kesultanan dan para pendatang dari Demak (Jawa) dan Cirebon (Keturunan Jawa). Sebagian besar rakyat pada waktu itu tetap mempergunakan bahasa Sunda sebagai bahasa kesehariannya. Sehubungan dengan pusat pemerintahan kesultanan dan sebagian besar pendatang dari Cirebon dan Demak berada di kampung Banten dan sepanjang pantai utara seperti di daerah Anyer, Cilegon,Merak, Bojonegara, Pontang, Tirtayasa, dan sebagian Kabupaten Tangerang (sekarang) bagian utara.
Khusus di kabupaten Serang pada saat sekarang,sedikitnya terdapat tiga bahasa yang dipergunakan masyarakat secara baik, yaitu bahasa Jawa (dialek) Banten, bahasa Sunda, dan bahasa Indonesia. Bahasa Jawa (dialek) Banten, dipakai di wilayah Kabupaten Serang sesuai keperluannya.
Agus Suriamiharja dkk. (1981) memetakan geografi pemakaian bahasa di Kabupaten Serang sebagai berikut.
1. Pemakai bahasa Jawa (dialek)Banten terdapat di kecamatan: Cilegon, Merak, Bojonegara, Pontang, Tirtayasa, Ciruas, Carenang, Kasemen, dan Kramatwatu.
2. Pemakaian bahasa Sunda terdapat di Kecamatan:Ciomas, Pabuaran, Padarincang, Cinangka, Anyar (sebagian), Baros, Petir, Cikeusal, Kopo, Cikande, dan Pamarayan.
3. Pemakaian bahasa Jawa-Sunda (bilinguistis) terdapat di kecamatan:
Anyar, Serang,Mancak, Waringinkurung, Taktakan,Serang, Cipocok, Walantaka, dan Kragilan.
Sejalan dengan diproklamirkannya Banten sebagai sebuah provinsi, timbul sebuah wacana dari sebagian pendatang jawa untuk mencari identitas kedaerahan yang salah satunya dengan menjadikan bahasa Jawa (dialek Banten) sebagai bahasa daerah yang berlaku di Kabupaten Serang. Wacana ini tentunya perlu dipikirkan dan dikaji secara matang, sehingga tidak menimbulkan persoalan lain yang malah menghilangkan identitas bahasa yang sebenarnya yaitu Bahasa Sunda Kuno.
Sebetulnya bahasa sunda banten bukanlah bahasa sunda kasar, tapi bahasa sunda asli memang begitu adanya,
Wilayah sunda priangan bandung dan sekitarnya menganggap bahasa sunda banten itu terdengar kasar, karena dahulu wilayah priangan pun pernah di kuasai mataram (Jawa), Mereka pendatang jawa yang ada di wilayah priangan, memaksakan kepada orang sunda untuk mencampurkan budaya serta bahasa jawa kedalam bahasa dan budaya sunda. Akibatnya orang sunda priangan menganggap bahasa sunda banten terdengar kasar, padahal bahasa sunda asli ialah bahasa yang di tuturkan di wilayah banten. Akan tetapi di wilayah priangan khususnya di Bandung, bahasa sunda campuran jawa tengah sudah tidak lagi di pakai, dan lebih memilih untuk memakai bahasa sunda seperti yang di gunakan masyarakat sunda banten. Contoh : Aing, Dia/Sia, Dahar, dan lain sebagainya.
Di tambah karena mataram (jawa) pada saat itu melihat orang-orang sunda rupawan wajahnya dan gadis-gadisnya yang cantik, maka dari itu orang jawa ingin agar orang-orang yang berada di luar pulau jawa melihat orang sunda itu adalah orang jawa juga karena di lihat dari bahasa yang sedikit ada sentuhan bahasa jawa tengah, akan tetapi orang di luar pulau jawa bisa membedakan mana wajah sunda dan mana wajah jawa. Parahnya lagi, ketika mataram menguasai wilayah priangan Bandung dan sekitarnya, orang jawa karena tergiur dengan kecantikan gadis-gadis sunda priangan, banyak dari gadis sunda priangan yang di perkosa, dan ada pula yang dijadikan istri secara paksa....karena kebanyakan gadis sunda priangan pada saat itu menganggap jawa adalah penjajah selain wajahnya yang mirip suku tamil india selatan. Maka dari itu di wilayah sunda (Jawa Barat/pasundan) khususnya di wilayah priangan banyak terdapat keturunan-keturunan orang jawa tengah yang dahulunya gadis sunda di perkosa dan di jadikan istri secara paksa dan TERPAKSA melahirkan keturunan jawa yang pastinya keturunannya tidak sebagus keturunan sunda asli, tapi ada juga yang bagus karena ada keturunan dari ibunya sunda yang rupawan. Pada umumnya kulit orang sunda bersih kuning langsat karena gemar memakan lalapan, sayuran dan faktor wilayahnya yang subur sejuk. Tapi jikalau ada yang berbeda dengan orang sunda, dipastikan dia ada keturunan mataram jawa yang dahulunya neneknya yang sunda di perkosa dan dijadikan istri secara paksa oleh mataram jawa (Jamil=Jawa Tamil).
Mungkin inilah alasan orang sunda menyimpan dendam sampai sekarang di zaman yang serba modern ini.
Dan anehnya kalau pria jawa menikahi gadis sunda itu malah diperbolehkan. (Suatu Kejanggalan)
Selidik punya selidik ternyata hampir setiap Blog yang saya temui pembuatnya adalah wong jowo yang mempublikasikan hal2 tersebut, dan tidak ada sama sekali yang membuat blog mengenai larangan sunda dan jawa itu dari orang sunda kecuali saya seorang.
Saya hanya ingin memberitahukan INFO FAKTA saja untuk para pembaca,
dari dulu hingga sekarang tidak ada orang sunda yang berniat ingin menikah dengan wong jowo,
pria sunda dan gadis sunda tidak ada yang ingin menikah dengan wong jowo, adapun yang menikah dengan wong jowo, mungkin dia bukan orang sunda asli dan masih ada keturunan jowo nya...karena di tatar sunda ini banyak keturunan jowo yang dahulu sejarahnya ketika mataram menjajah tatar sunda banyak dari prajurit mataram yang enggan kembali ke tanah jawa dan lebih memilih tinggal di tatar sunda, dan ada pula gadis2 sunda yang diperkosa oleh prajurit jawa mataram sehingga melahirkan keturunan2 anak haram. dan ditambah pada dasarnya orang sunda tidak mau jauh dari keluarga, sangat sayang keluarga..
lagian gadis sunda itu cantik2, ngapain pria sunda cari gadis di luar non sunda.
sudah jelas dalam sejarah pun Perang Bubat antara sunda vs jawa, dikisahkan kerajaan sunda ditipu oleh pihak jawa... dan berakhir tragis dari pihak sunda semua gugur...
dan dari situlah orang sunda enggan/tidak mau menikah dengan jawa,
sebetulnya putri dyah pitaloka tidak mau menikah dengan non sunda, tapi karena ingin berbakti kepada sang ayah, akhirnya putri sunda mau menuruti kehendak sang ayah, lagian si hayam wuruk raja majapaht bukan lah orang jawa asli, melinkan sunda. silahkan kalian cari biografi hayam wuruk.
jadi intinya, karena jawa merasa diremehkan oleh pihak sunda, karena ada larangan orang sunda menikah dengan jawa,
maka jawa membuat peraturan yang sama, walaupun sebetulnya orang jawa kebanyakan sangat ingin menikah denga orang sunda...khususnya ingin menikahi gadis2 sunda yang cantiknya minta ampun...
padahal yang sebetulnya larangan itu adalah jawa pendatang yang ada di tanah sunda ( cirebon ) dilarang menikah dengan jawa timur. INI YANG SEBETULNYA.
dan sudah jelas, kalau pihak sunda tidak perlu ditanya, pasti jawabannya TIDAK MAU MENIKAH DENGAN JAWA, bukan karena alasan mitos dll, tapi memang wajah orang jawa tidak menarik di hati....
kalau masalah kerjaan profesi dll itu MUDAH DI CARI, cari kerja gampang, manusia itu diberi kelebihan oleh Allah!
makanya kebanyakan pria sunda dan gadis sunda lebih mencari pasangan dari sunda lagi, karena pria sunda dan wanita sunda wajahnya sama2 memiliki kelebihan yang diberikan Tuhan..
7 dari 8 wanita sunda terkenal kecantikannya ke benua asia dan eropa. tapi karena orang luar taunya suku jawa barat, makanya yang ke bawa bagus itu jawa barat, bukan sunda nya. makanya saya dari dulu ingin banget ganti jawa barat jadi pasundan, biar pasundan yang terkenal keluarnya, bukan jawa bagian barat, keenakan dong si jawa yang jadi terkenalnya.
Dari dulu Suku Jawa selalu ingin menyamakan Sunda dengan Jawa, karena orang Jawa memandang Suku Sunda terutama gadis-gadis Sunda nya yang cantik-cantik serta tatar alam Sunda yang subur. Maka tak heran si Suku Jawa selalu ingin menguasai Sunda dan sengaja membuat karangan cerita bahwa Suku Sunda adalah masih keturunan Jawa, dan jawa merasa senang kalau ada orang di luar pulau jawa memanggil sebutan orang sunda itu jawa. biar nama jawa kebawa-bawa bagus.
coba lihat saja cirebon, setengah wilayah banten, indramayu dan masih banyak lagi yang notebene nya itu wilayah sunda, tapi banyak di huni oleh suku jawa pendatang... mereka suku jawa pendatang ingin tinggal di tatar sunda yang subur, dan ingin mempunyai pasangan istri orang sunda MALAHAN MAKSA BANGET PENGEN PUNYA ISTRI ORANG SUNDA KARENA SAKING CANTIKNYA. bukan hanya orang jawa, malahan si BATAK pun maksa kepengen punya istri orang sunda. INI SUDAH MENJADI RAHASIA UMUM. gadis sunda paling diminati oleh banyak suku luar. bagaimana tidak, orang mana yang menolak dengan gadis2 cantik...
perbedaan kulit wajah sunda dengan jawa jauh berbeda, ibarat langit dan bumi.
Kalau jawa itu keturunan india Tamil.
tidak ada nama suku jawa, karena jawa diambil dari nama tanaman jawi.
pulau ini disebut pulau jawa karena terdapat tanaman jawi yang langka, dan sudah punah!Sunda memang bukan Jawa, meski berada dan mendiami pulau yang sama. Orang Sunda rata-rata tidak atau kurang berkenan disebut orang Jawa. Profesor Utju Ali Basyah, tokoh Sunda di Aceh selalu menegaskan bahwa Sunda itu bukan Jawa. Sebab di mata orang Aceh, Jawa itu penjajah!
Menurut Serat Maha Parwa, penduduk Jawa berasal dari Hindustan (India) dan Siam (India) yang sebelumnya singgah di Nusa Kencana (Kalimantan). sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Banjar#Jawa_Tengah
Di zaman kerajaan dahulu, nama wilayah Surabaya adalah Hujung Galuh dan bukan Suroboyo (Nuswantara Lama, belum ada dikotomi kesukuan). Hujung Galuh merupakan kekuasaan kerajaan Galuh. Tarumanegara pecah menjadi 2 bagian kerajaan, yaitu Galuh dan Sunda. keduanya memiliki kekuasaan wilayahnya masing-masing, Sri Baduga Maharaja (1482-1521) menyatukan kembali Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.Kenapa pria dari suku jawa kebanyakan mencari gadis dari suku lain ?
Ini bukan sekedar omongan belaka, tapi bukti dilapangan...
Apakah gadis dari suku jawa kurang begitu menarik untuk pria jawa?
kalau pun ada yang ngaku2 sunda sudah menikah dengan jawa, itu bohong!!! mungkin dia keturunan jawa juga yang ada di tatar sunda, makanya mau nikah sama jawa!Penduduk asli yang hidup di Provinsi Banten berbicara menggunakan dialek yang merupakan turunan dari bahasa Sunda Kuno. Dialek tersebut dikelompokkan sebagai bahasa kasar dalam bahasa Sunda modern, yang memiliki beberapa tingkatan dari tingkat halus sampai tingkat kasar (informal), yang pertama tercipta pada masa Kesultanan Mataram menguasai Priangan (bagian timur Provinsi Jawa Barat). Namun demikian, di Wilayah Banten Selatan Seperti Lebak dan Pandeglang menggunakan bahasa Sunda Campuran Sunda Kuno, Sunda Modern, dan bahasa Indonesia, di Serang dan Cilegon, bahasa Jawa Banten digunakan oleh pendatang etnik Jawa. Dan, di bagian utara Kota Tangerang, bahasa Indonesia dengan dialek Betawi juga digunakan oleh pendatang komunitas Betawi. Di samping bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan dialek Betawi, bahasa Indonesia juga digunakan terutama oleh pendatang dari bagian lain Indonesia.
Bahasa Jawa dialek Banten ini termasuk salah satu yang kurang terdengar gaungnya, mungkin karena sama seperti bahasa Jawa dialek Cirebon (Cerbonan), dan Indramayu (Dermayon), wilayah bahasa Jawa dialek ini terletak di dua propinsi yang lebih sering dikonotasikan dengan wilayah orang Sunda (Propinsi Jawa Barat/Pasundan & Propinsi Banten). Sehingga sangat jarang ahli bahasa Jawa yang mendalami seluk beluk dan sejarahnya. Amat sedikit (kalau tidak mau dikatakan tidak ada) literatur yang ditulis dalam ketiga dialek bahasa Jawa tersebut.
Nasib lebih baik didapat oleh kedua dialek bahasa Jawa lainnya yang tersebut diatas. Semata-mata karena wilayah fisiknya berbatasan langsung dengan wilayah propinsi Jawa Tengah. Dan masih banyaknya persamaan budaya dan bahasa terutama dengan bahasa Jawa dialek Banyumasan dan Tegalan.
Apabila kita mencoba membuka kembali buku sejarah, kita mengenal sebuah kerajaan besar di daerah pulau Jawa bagian Barat, yaitu kerajaan pajajaran. Diperkirakan lima ratus tahun yang lampau, kerajaan itu mengalami masa kejayaan sehingga rakyatnya hidup dalam keadaan tata tentrem kerta raharja. Luas wilayah kerajaan pajajaran meliputi hampir seluruh pulau Jawa bagian Barat ditambah pula dengan daerah Tegal dan Banyumas yang sekarang masuk kedalam wilayah propinsi Jawa Tengah (Ekajati, 1975).
Salah satu daerah pulau Jawa bagian barat yang merupakan daerah yang tak terpisahkan dari kekuasaan kerajaan Pajajaran adalah wilayah Banten. Kata Banten sendiri secara etimologi terdapat beberapa macam pendapat. Kata Banten dianggap berasal dari kata bantahan (bahasa sunda) "bukan penurut", bin-tahan "tahan dalam segala perjuangan",ketiban-inten "kejatuhan intan", ban "lingkaran" dan ten "intan", dan wahanten. Yang terakhir ini adalah nama sebuah daerah dalam sejarah yang termasuk kerajaan pajajaran. Nama itu disebut dalam naskah carita parahiyangan. Artinya mungkin sama dengan Cibanten karena bentuk baru wah berarti "sungai". Cibanten adalah nama sungai yang ada di daerah kota Banten.
Lalu Kerajaan Demak (Jawa) merebut wilayah Banten dari Pajajaran (Sunda). sejak itu masuk pula bahasa dan kebudayaan orang Jawa Kerajaan Demak ke wilayah Banten, terutama di sepanjang daerah pantai utara. Masyarakat Banten di sepanjang pantai utara(sebagian Kabupaten Serang dan Tangerang bagian utara) yang sebelumnya berbahasa dan berbudaya Sunda mulai dipaksa menerima bahasa dan budaya Jawa. Kemungkinan sejak peristiwa ini, muncullah istilah bahasa Jawa (dialek) Banten yang pada perkembangan selanjutnya terjadi sentuh bahasa dengan bahasa Sunda sehingga bahasa Jawa (dialek) Banten bergeser dari ciri-ciri bahasa Jawa lulugu- bahasa Jawa asli.
Berdasarkan sumber informasi yang ada, tidak ada satu pun keterangan yang memberi penjelasan bahwa bahasa Jawa merupakan bahasa resmi yang harus dipergunakan (minimalnya di kuasai) oleh seluruh rakyat Banten pada waktu pemerintahan Kesultanan Banten. Artinya, bahwa bahasa Jawa Banten hanya dipergunakan secara terbatas di kalangan para kerabat kesultanan dan para pendatang dari Demak (Jawa) dan Cirebon (Keturunan Jawa). Sebagian besar rakyat pada waktu itu tetap mempergunakan bahasa Sunda sebagai bahasa kesehariannya. Sehubungan dengan pusat pemerintahan kesultanan dan sebagian besar pendatang dari Cirebon dan Demak berada di kampung Banten dan sepanjang pantai utara seperti di daerah Anyer, Cilegon,Merak, Bojonegara, Pontang, Tirtayasa, dan sebagian Kabupaten Tangerang (sekarang) bagian utara.
Khusus di kabupaten Serang pada saat sekarang,sedikitnya terdapat tiga bahasa yang dipergunakan masyarakat secara baik, yaitu bahasa Jawa (dialek) Banten, bahasa Sunda, dan bahasa Indonesia. Bahasa Jawa (dialek) Banten, dipakai di wilayah Kabupaten Serang sesuai keperluannya.
Agus Suriamiharja dkk. (1981) memetakan geografi pemakaian bahasa di Kabupaten Serang sebagai berikut.
1. Pemakai bahasa Jawa (dialek)Banten terdapat di kecamatan: Cilegon, Merak, Bojonegara, Pontang, Tirtayasa, Ciruas, Carenang, Kasemen, dan Kramatwatu.
2. Pemakaian bahasa Sunda terdapat di Kecamatan:Ciomas, Pabuaran, Padarincang, Cinangka, Anyar (sebagian), Baros, Petir, Cikeusal, Kopo, Cikande, dan Pamarayan.
3. Pemakaian bahasa Jawa-Sunda (bilinguistis) terdapat di kecamatan:
Anyar, Serang,Mancak, Waringinkurung, Taktakan,Serang, Cipocok, Walantaka, dan Kragilan.
Sejalan dengan diproklamirkannya Banten sebagai sebuah provinsi, timbul sebuah wacana dari sebagian pendatang jawa untuk mencari identitas kedaerahan yang salah satunya dengan menjadikan bahasa Jawa (dialek Banten) sebagai bahasa daerah yang berlaku di Kabupaten Serang. Wacana ini tentunya perlu dipikirkan dan dikaji secara matang, sehingga tidak menimbulkan persoalan lain yang malah menghilangkan identitas bahasa yang sebenarnya yaitu Bahasa Sunda Kuno.
Sebetulnya bahasa sunda banten bukanlah bahasa sunda kasar, tapi bahasa sunda asli memang begitu adanya,
Wilayah sunda priangan bandung dan sekitarnya menganggap bahasa sunda banten itu terdengar kasar, karena dahulu wilayah priangan pun pernah di kuasai mataram (Jawa), Mereka pendatang jawa yang ada di wilayah priangan, memaksakan kepada orang sunda untuk mencampurkan budaya serta bahasa jawa kedalam bahasa dan budaya sunda. Akibatnya orang sunda priangan menganggap bahasa sunda banten terdengar kasar, padahal bahasa sunda asli ialah bahasa yang di tuturkan di wilayah banten. Akan tetapi di wilayah priangan khususnya di Bandung, bahasa sunda campuran jawa tengah sudah tidak lagi di pakai, dan lebih memilih untuk memakai bahasa sunda seperti yang di gunakan masyarakat sunda banten. Contoh : Aing, Dia/Sia, Dahar, dan lain sebagainya.
Di tambah karena mataram (jawa) pada saat itu melihat orang-orang sunda rupawan wajahnya dan gadis-gadisnya yang cantik, maka dari itu orang jawa ingin agar orang-orang yang berada di luar pulau jawa melihat orang sunda itu adalah orang jawa juga karena di lihat dari bahasa yang sedikit ada sentuhan bahasa jawa tengah, akan tetapi orang di luar pulau jawa bisa membedakan mana wajah sunda dan mana wajah jawa. Parahnya lagi, ketika mataram menguasai wilayah priangan Bandung dan sekitarnya, orang jawa karena tergiur dengan kecantikan gadis-gadis sunda priangan, banyak dari gadis sunda priangan yang di perkosa, dan ada pula yang dijadikan istri secara paksa....karena kebanyakan gadis sunda priangan pada saat itu menganggap jawa adalah penjajah selain wajahnya yang mirip suku tamil india selatan. Maka dari itu di wilayah sunda (Jawa Barat/pasundan) khususnya di wilayah priangan banyak terdapat keturunan-keturunan orang jawa tengah yang dahulunya gadis sunda di perkosa dan di jadikan istri secara paksa dan TERPAKSA melahirkan keturunan jawa yang pastinya keturunannya tidak sebagus keturunan sunda asli, tapi ada juga yang bagus karena ada keturunan dari ibunya sunda yang rupawan. Pada umumnya kulit orang sunda bersih kuning langsat karena gemar memakan lalapan, sayuran dan faktor wilayahnya yang subur sejuk. Tapi jikalau ada yang berbeda dengan orang sunda, dipastikan dia ada keturunan mataram jawa yang dahulunya neneknya yang sunda di perkosa dan dijadikan istri secara paksa oleh mataram jawa (Jamil=Jawa Tamil).
Mungkin inilah alasan orang sunda menyimpan dendam sampai sekarang di zaman yang serba modern ini.